Monday, May 17, 2010

HACHIKO


Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”

“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiko saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiko pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Hachiko

juambuuu,,,,,, aq hmpir nangis ntn film kisah nyata hachiko,,, zzzzzzz!ada ya ternyata kesetiaan yg smpe sgitunya,,,sygnya bukan dr manusia,,,tapi dari seekor anjing.
dan nyatanya di akhir film nangis temenan cak,,, UNBELIEVABLE!!!!

Friday, May 14, 2010

Today's activity

beseet,,hari ini aktivitas buaaaaannnnnnyyyyyyyaaaaaaaaakkkkkkkkkk bgt,,,,,,,,
mulai dari jam 7 pagi ampe jam 9 malem,,,anjriit.... cape bgt

Wednesday, May 12, 2010

Je pense que les choses ont changé, tout n'est pas ce qu'il était, quand ils ont promis de maintenir l'unité, mais après ils ont rencontré leur partenaire - chacune,,, qui leur avait été promise disparu.

Tuesday, May 11, 2010

Ciri - Ciri Manusia Indonesia

1. Bahwa sinisme Mochtar lubis tentang Manusia Indonesia adalah akibat memudarnya gagasan tentang Indonesia.

Seperti yang telah kita ketahui, pada masa sekarang ini, telah banyak sekali hal – hal yang membuktikan bahwa identitas asli Indonesia pada saat ini telah memudar bahkan hampir hilang dan tergantikan oleh budaya – budaya asing. Hal ini menimbulkan banyak kritikan yang tajam akan identitas dan gagasan awal Indonesia, seperti halnya sinisme yang di lontarkan oleh Mochtar Lubis tentang ciri – ciri manusia Indonesia.
Ciri pertama, manusia Indonesia memiliki sifat yang “hipokritis” atau munafik (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 18). Kritikan ini muncul dikarenakan seperti yang telah kita ketahui bahwa pada saat ini banyak sekali kebohongan – kebohongan publik yang telah terjadi di indonesia ini. Seperti contoh, banyak sekali janji – janji dari wakil rakyat yang ternyata hal itu hanya merupakan suatu omong kosong belaka dan sekedar bualan agar mereka dipilih oleh rakyat, selain itu hukum di Indonesia pada saat ini telah dapat dibeli oleh uang seperti kasus Artalita suryani. Disaat para pelaku kriminal “kecil” diperlakukan secara tidak layak dipenjara tetapi Artalita yang notabene merupakan kriminal yang telah membawa banyak kerugian bagi negara mendapatkan perlakuan selayaknya ratu di dalam penjara, dia mendapatkan sel yang sangat mewah yang menggunakan kantor dari pada pengurus penjara, ini merupakan suatu kemunafikan hukum dan pihak berwajib yang ada di Indonesia. Hal demikian merupakan suatu ironi, ketika identitas manusia Indonesia yang dikenal jujur tetapi pada kenyataannya sangat berbeda. Berpura – pura, lain di depan, lain di belakang, adalah merupakan sebuah ciri utama bagi manusia Indonesia, mereka dipaksa oleh kekuatan – kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya, karena mereka takut akan mendapatka ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 18). Dari contoh yang telah saya uraikan diatas, tidak salah jika saya mengatakan bahwa sifat kemunafikan telah mengakar pada mindset orang Indonesia, selain itu contoh di atas juga merupakan sebuah penyimpangan dari demokrasi. Demokrasi yang membawa unsur – unsur kebebasan, manusia serta persamaan manusia telah disalah artikan. Bagi Mochtar Lubis sikap ini bisa dan merupakan sebuah pendorong bagi terjadinya pengkhianatan intelektual di Indonesia (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 20).
Ciri kedua dalam sinisme Mochtar Lubis akan manusia Indonesia adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tak bisa disangkal lagi, bahwa pengalihan tanggung jawab sudah menjadi hal yang tidak aneh di Indonesia. Kalimat – kalimat “saya tidak tahu!”. “bukan saya!” sudah sering kita jumpai dalam setiap kejadian, hal ini tentu merupakan salah satu hal yang mendasari akan kritikan Mochtar Lubis akan manusia Indonesia. Dalam dunia pekerjaan ketika terjadi suatu kesalahan yang menyebabkan kerugian dalam suatu perusahaan, atasan pada umumnya selalu melimpahkan kesalahan kepada bawahan dan menolak bahwa kesalahan tersebut juga diakibatkan oleh atasan, dan demikian pula bawahan tersebut juga enggan bertanggung jawab dengan mengeluarkan kalimat yang pada umumnya berbunyi “itu hanya perintah atasan” atau bawahan tersebut juga melimpahkan kesalahan pada pegawai yang lebih bawah lagi (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 21). Seperti dari contoh kasus yang dibawa oleh Mochtar Lubis tentang kasus pertamina. Kasus suap yang terjadi di pertamina dengan salah satu perusahaan timbal di Inggris, Innospec Ltd, Perusahan ini diketahui telah memberikan suap kepada sejumlah petinggi di Pertamina dan pemerintahan dalam rangka mengamankan penjualan zat aditif bahan bakar tetra ethyl lead (TEL) sebagai material tambahan untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) kasus suap ini telah menye babkan kerugian yang bernilai ratusan juta rupiah terhadap Indonesia. Namun para petinggi pertamina tidak ada yang mau mengakuinya, hingga para penyelidik KPK harus turun tangan. Hal ini telah merupakan suatu cukup bukti yang menunjukkan bahwa tidak atau enggan bertanggung jawab adalah salah satu sifat manusia Indonesia. Namun ketika terjadi suatu hal yang meyebabkan suatu kesuksesan, maka manusia Indonesia tidak sungkan untuk unjuk diri dan berusaha membuktikan bahwa kesuksesan itu terjadi karena usaha mereka (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 22).
Ciri ketiga sifat manusia Indonesia adalah jiwa feodal yang dimilikinya. Ketika gerakan revolusi terjadi dengan tujuan agar menghilangkan dan membebaskan manusia dari feodalisme yang ada di Indonesia, namun kenyataan berkata lain. Banyak sekali kejadian – kejadian yang mengindikasikan bahwa feodalisme dalam bentuk baru semakin berkembang di Indonesia, seperti contoh, Sejarawan Prof. Dr. Djoko Suryo, dalam sebuah kesempatan di salah satu acara televisi mengatakan, “Dulu seorang sultan memang memiliki kekuatan politik untuk mengatur kesultanannya, tetapi sekarang seorang sultan sekarang sekarang adalah pemimpin kultural bukan politis. Akan tetapi, kontras sekali peryataan ini apabila kita menyaksikan pula kesediaan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009.
Pertanda apakah ini? Ketika seorang pemimpin tradisional kharismatis di mata masyarakat Yogjakarta dan menjadi simbol eksistensi budaya Jawa yang telah merintis karier politiknya dan sekarang memutuskan untuk mengajukan diri menjadi orang nomor satu di Indonesia. Hal ini menimbulakan kecenderungan bahwa hal ini mempunyai suatu tujuan terselubung disamping ingin membuat Indonesia menjadi lebih baik namun, sang sultan juga mempunyai urgensi ingin mempertahankan Jogjakarta sebagai pusat budaya Jawa denga Keraton sebagai simbolnya patut dipertanyakan kembali. Sultan yang dipandang sebagain besar masyarakat sebagai tokoh Raja – Dewa sebenarnya hanya mempunyai fungsi sebagai pemimpin kebudayaan Jawa. Namun demikian, ambisinya ternyata tidak terbatas pada titik itu. Ia ingin membangkitkan kembali kesultanan yang dipimpinnya melalui jalur eksekutif. Sikap ini sebenarnya sangat prematur karena lebih berpotensi menghasilkan berbagai hal yang negatif. Hal ini yang menrupakan indikasi munculnya feodalisme di Indonesia, feodalisme merupakan bentuk penghisapan yang dibungkus oleh nila kultural dalam bentuk konsep patron-klien, raja berkewajiban melindungi rakyat, sedangkan rakyat berkewajiban melayani raja. Dalam aplikasi yang lebih moderen, feodalisme belum sepenuhnya hilang di negara ini. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, tentang bagaimana Soeharto menerjemahkan kapitalisme barat dalam bentuk feodalisme modern Jawa yang sangat menyengsarakan rakyat.
Ciri keempat manusia indonesia yang disebutkan dalam sinisme Mochtar Lubis adalah percaya akan takhayul. Dari jaman dahulu sampai jamn globalisasi saat ini manusia Indonesia masih sangat percaya akan takhayul, ketika jaman penjajahan contohnya, presiden Soekarno yang notabene pada masa itu dianggap sebagai lambang dukun yang paling berpengaruh di Indonesia, sering menggunakan mantra – mantra untuk mengusir para penjajah seperti nekolim, vivere pericoloso, dan lain – lain (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 28). Yang hal ini sebenarnya hanya membuat manusia Indonesia menjadi lemah, mereka berfikir hanya dengan mengucapkan mantera mereka bisa mengusir penjajah. Hingga memasuki jaman globalisasi seperti saat ini masih sering kita jumpai perilaku – perilaku mistik yang dilakukan oleh manusia Indonesia tidak hanya di kalangan masyarakat biasa namun juga di kalangan penjabat. Seperti contoh, masih sering kita lihat “sesajen” ketika kita melewati jalan dimana pada jalan tersebut sering terjadi kecelakaan dengan harapan kecelakaan tersebut akan berkurang atau bahkan tidak terjadi kecelakaan lagi, selain itu ketika mengharapkan akan sesuatu manusia Indonesia sering peri ke makam wali songo atau sesepuh mereka untuk menerima suatu berkah agar keingingan mereka dikabulkan. Situasi seperti demikian yang merupakan cerminan ciri manusia Indonesia, sebenarnya tidak mencerminkan sosok manusia Indonesia yang sebenarnya dimana negara kita Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila, pada sila pertama menyebutkan Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam sila tersebut menggambarkan bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang percaya akan adanya tuhan yang pada kondisi kenyataannya sama sekali berbeda, tentunya hal ini menjadi suatu ironi akan manusia Indonesia.
Ciri kelima manusia Indonesia adalah artistik. Hal ini, menurut saya sedikit terkait dengan ciri keempat manusia Indonesia dimana manusia Indonesia yang percaya akan takhayul menggunakan naluri mereka untuk memvisualisasikan sesuatu yang mereka sembah dengan menciptakan suatu karya seni yang sangat artistik. Ciri kelima ini, menurut Mochtar Lubis cukup membanggakan dikarenakan kerajinan – kerajinan yang mereka ciptakan sangat digemari oleh pihak – pihak asing dan oleh karena itu dapat menghasilkan keuntungan bagi Indonesia. Seperi yang telah kita ketahui, banyak sekali karya insan manusia Indonesia yang telah menjadi salah satu karya menakjubkan yang di akui oleh dunia, seperti gamelan dari Indonesia telah menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Selain itu, kesenian tari kecak dari Bali, juga telah tenar dalam kalangan internasional, hal ini terbukti ketika salah seorang budayawan asal Jepang, Dr. Mari Nabeshima dalam pidatonya pada kongres kebudayaan bali ke – 1 di Denpasar tahun 2008, beliau mengatakan “seni pertunjukan tradisi Bali selain menampilkan tontonan yang bermutu juga merupakan sebuah alat komunikasi antarbangsa, khususnya masyarakat Jepang-Bali di era globalisasi dewasa ini.” (Dr. Mari Nabeshima; 2008).
Ciri keenam manusia Indonesia dalam sinisme Mochtar Lubis adalah watak yang lemah. manusia Indonesia cenderung memiliki karakter yang lemah, tidak kuat untuk memegang teguh keyakinannya, sangat mudah untuk dibujuk bahkan dipaksa, hanya untuk survive dalam roda kehidupan. Kegoyahan watak ini juga berkaitan dengan sikap feodal yang dimiliki oleh manusia Indonesia (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 35). Selain itu manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis adalah suatu sosok yang ingin mendapatkan kesuksesan tanpa ingin untuk bersusah payah, menginginkan segala sesuatu terjadi dengan instan. Menurut saya hal ini tidak berlebihan, dikarenakan kenyataan yang bisa kita lihat belakangan ini banyak sekali manusia Indonesia yang ingin mendapatkan kesuksesan dengan mengambil jalan pintas seperti contoh pencurian, korupsi, perampokan sering terjadi. Hal demikian merupakan suatu indikasi bahwa untuk mendapatkan kekayaan, manusia Indonesia cenderung menempuh jalan pintas dengan melakukan hal seperti demikian. Contoh lain yaitu generasi muda Indonesia juga mulai terjangkit virus malas berusaha tersebut, banyak sekali mahasiswa yang ingin mendapatkan gelar sarjana mereka dengan melalui jalan pintas seperti membeli skripsi, gelar, dan lain – lain.
Dari keenam ciri diatas, menurut saya hal ini memang terjadi akibat pudarnya gagasan awal tentang Indonesia. Yaitu suatu negara yang berdasarkan dan berideologi Pancasila, namun perilaku manusia Indonesia sendiri tidak mencerminkan demikian. Banyak sekali penyimpangan – penyimpangan dari Pancasila yang telah dilakukan oleh manusia Indonesia yang juga telah saya uraikan dalam penjelasan di atas. Seperti kemunafikan, takhayul, dan masih banyak lagi, hal ini merupakan suatu indikasi akan pudarnya gagasan awal akan Indonesia, dimana manusia Indonesia merupakan insan yang jujur, lembut, dan lain – lain.
Hal seperti ini perlu mendapat perhatian lebih dari kita para generasi muda Indonesia, jika bukan kita yang merubah keenam hal diatas, maka manusia Indonesia tetap akan menjadi dan memiliki sifat yang telah disebutkan dalam sinisme Mochtar Lubis akan manusia Indonesia. Ketika gagasan tentang Indonesia sudah benar – benar pudar, maka hal yang ditakutkan adalah Indonesia akan kembali menjadi negara yang terjajah meskipun bukan dalam artian wilayah teritorial, namun dalam segi mental, budaya, sikap dan masih banyak lagi. Oleh karena tu, maka hendaknya kita sebagai generasi muda manusia Indonesia agar memperkuat kembali gagasan tentang Indonesia, supaya Indonesia yang kita tempati sekarang ini menjadi Indonesia yang sebenarnya, yaitu Indonesia memiliki jati diri yang kuat di dukung dengan manusia Indonesia yang memiliki jiwa Indonesia yang sesungguhnya dengan berdasarkan pada Pancasila.





Sources:
- (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia; 2001),
- Oki Baren, 26 maret 2010 (http://www.primaironline.com/berita/ekonomi/inilah-risalah-kasus-suap-pertamina),
- http://www.antara.co.id (Dr. Mari Nabeshima: Seni Budaya Bali Mendunia;Minggu, 15 Juni 2008 16:06 WIB), access at 11:58 pm, 4/5/2010

Happy Birthday Mom

buat mama tercintaaa,,, happy birthday yaa,,,
moga jadi lebih baik,,,ga gampang marah2 lagii

13 colonies

Part 1: Coming to America
The first colonies in North America were along the eastern coast. Settlers from Spain, France, Sweden, Holland, and England claimed land beginning in the 17th century. The struggle for control of this land would continue for more than a hundred years.
The first permanent settlement in North America was the English colony at Jamestown, in 1607, in what is now Virginia. John Smith and company had come to stay. The Pilgrims followed, in 1620, and set up a colony at Plymouth, in what is now Massachusetts.
Other English colonies sprang up all along the Atlantic coast, from Maine in the north to Georgia in the south. Swedish and Dutch colonies took shape in and around what is now New York.
As more and more people arrived in the New World, more and more disputes arose over territory. Many wars were fought in the 1600s and 1700s. Soon, the two countries with the largest presence were England and France.
The two nations fought for control of North America in what Americans call the French and Indian War (1754-1763). England won the war and got control of Canada, as well as keeping control of all the English colonies.
By this time, the English colonies numbered 13. They were Massachusetts, New Hampshire, Connecticut, Rhode Island, New York, New Jersey, Pennsylvania, Maryland, Delaware, Virginia, North Carolina, South Carolina, and Georgia.
Part 2: Characteristics of the Colonies
Each colony had its own unique characteristics, but historians lump them into groups based on where they were, why they were founded, and what kinds of industry they had:
New England Colonies
Rhode Island
Connecticut
Massachusetts
New Hampshire
Middle Colonies
Delaware
Pennsylvania
New York
New Jersey
Southern Colonies
Maryland
Virginia
North Carolina
South Carolina
Georgia

Motivations
By and large, the people who settled in the New England Colonies wanted to keep their family unit together and practice their own religion. They were used to doing many things themselves and not depending on other people for much. Some of these people came to New England to make money, but they were not the majority.
The people who founded the Middle Colonies were looking to practice their own religion (Pennsylvania mainly) or to make money. Many of these people didn't bring their families with them from England and were the perfect workers for the hard work required in ironworks and shipyards.
The founders of the Southern Colonies were, for the most part, out to make money. They brought their families, as did the New England colonists, and they kept their families together on the plantations. But their main motivation was to make the good money that was available in the new American market.
Economy
The New England Colonies were largely farming and fishing communities. The people made their own clothes and shoes. They grew much of their own food. Crops like corn and wheat grew in large numbers, and much was shipped to England. Foods that didn't grow in America were shipped from England. Boston was the major New England port.
The Middle Colonies were part agriculture, part industrial. Wheat and other grains grew on farms in Pennsylvania and New York. Factories in Maryland produced iron, and factories in Pennsylvania produced paper and textiles. Trade with England was plentiful in these colonies as well.
The Southern Colonies were almost entirely agricultural. The main feature was the plantation, a large plot of land that contained a great many acres of farmland and buildings in which lived the people who owned the land and the people who worked the land. (A large part of the workforce was African slaves, who first arrived in 1619.)
Southern plantations grew tobacco, rice, and indigo, which they sold to buyers in England and elsewhere in America.
Part 3: Beliefs and Revolution
Beliefs
The Pilgrims in Massachusetts and the Quakers in Pennsylvania were examples of people who had left England so they could practice the religion they chose. Maryland and Rhode Island passed laws of religious toleration (meaning that people couldn't be harmed just because their religion was different from other people's).
These American colonists also believed that they had a right to govern themselves. More and more, they believed that they shouldn't have to pay so much in taxes to England, especially since they couldn't serve in the English government and have a say on how high or low those taxes were.
Revolution
As more and more Americans voiced their concerns over higher and higher taxes, a conflict began to build. The English response was to isolate the colonies from each other, in hopes that the American people would not pull together as a whole. An example of this is the Intolerable Acts, which singled out Massachusetts in general and Boston in particular. One provision of these Acts was to close the port of Boston entirely. This was serious business. Boston was one of the largest ports in America. Closing it meant that Americans couldn't get food and other essentials from England or anywhere else, unless they paid extra for it to be transported from other ports, like New York.
But the punishment of Boston backfired. The Americans pulled together as never before. They took up arms against their English governors and fellow soldiers. Even though they had fought for England in the French and Indian War (George Washington included), they now fought against England for the right to govern themselves. The result was the Revolutionary War, which ended in American victory.
A new nation was born, one that had its roots in the conflicts between several European nations. That new nation would have to make its own way in an angry world.
(socialstudiesforkids.com)

persebaya juara

ayo rek,,,persebayaku,,, berikan yang terbaik buat kota surabaya,,, terutama bonek - bonek yang setia mendukungmu...

be the best. make us proud!!!