1. Bahwa sinisme Mochtar lubis tentang Manusia Indonesia adalah akibat memudarnya gagasan tentang Indonesia.
Seperti yang telah kita ketahui, pada masa sekarang ini, telah banyak sekali hal – hal yang membuktikan bahwa identitas asli Indonesia pada saat ini telah memudar bahkan hampir hilang dan tergantikan oleh budaya – budaya asing. Hal ini menimbulkan banyak kritikan yang tajam akan identitas dan gagasan awal Indonesia, seperti halnya sinisme yang di lontarkan oleh Mochtar Lubis tentang ciri – ciri manusia Indonesia.
Ciri pertama, manusia Indonesia memiliki sifat yang “hipokritis” atau munafik (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 18). Kritikan ini muncul dikarenakan seperti yang telah kita ketahui bahwa pada saat ini banyak sekali kebohongan – kebohongan publik yang telah terjadi di indonesia ini. Seperti contoh, banyak sekali janji – janji dari wakil rakyat yang ternyata hal itu hanya merupakan suatu omong kosong belaka dan sekedar bualan agar mereka dipilih oleh rakyat, selain itu hukum di Indonesia pada saat ini telah dapat dibeli oleh uang seperti kasus Artalita suryani. Disaat para pelaku kriminal “kecil” diperlakukan secara tidak layak dipenjara tetapi Artalita yang notabene merupakan kriminal yang telah membawa banyak kerugian bagi negara mendapatkan perlakuan selayaknya ratu di dalam penjara, dia mendapatkan sel yang sangat mewah yang menggunakan kantor dari pada pengurus penjara, ini merupakan suatu kemunafikan hukum dan pihak berwajib yang ada di Indonesia. Hal demikian merupakan suatu ironi, ketika identitas manusia Indonesia yang dikenal jujur tetapi pada kenyataannya sangat berbeda. Berpura – pura, lain di depan, lain di belakang, adalah merupakan sebuah ciri utama bagi manusia Indonesia, mereka dipaksa oleh kekuatan – kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya, karena mereka takut akan mendapatka ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 18). Dari contoh yang telah saya uraikan diatas, tidak salah jika saya mengatakan bahwa sifat kemunafikan telah mengakar pada mindset orang Indonesia, selain itu contoh di atas juga merupakan sebuah penyimpangan dari demokrasi. Demokrasi yang membawa unsur – unsur kebebasan, manusia serta persamaan manusia telah disalah artikan. Bagi Mochtar Lubis sikap ini bisa dan merupakan sebuah pendorong bagi terjadinya pengkhianatan intelektual di Indonesia (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 20).
Ciri kedua dalam sinisme Mochtar Lubis akan manusia Indonesia adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tak bisa disangkal lagi, bahwa pengalihan tanggung jawab sudah menjadi hal yang tidak aneh di Indonesia. Kalimat – kalimat “saya tidak tahu!”. “bukan saya!” sudah sering kita jumpai dalam setiap kejadian, hal ini tentu merupakan salah satu hal yang mendasari akan kritikan Mochtar Lubis akan manusia Indonesia. Dalam dunia pekerjaan ketika terjadi suatu kesalahan yang menyebabkan kerugian dalam suatu perusahaan, atasan pada umumnya selalu melimpahkan kesalahan kepada bawahan dan menolak bahwa kesalahan tersebut juga diakibatkan oleh atasan, dan demikian pula bawahan tersebut juga enggan bertanggung jawab dengan mengeluarkan kalimat yang pada umumnya berbunyi “itu hanya perintah atasan” atau bawahan tersebut juga melimpahkan kesalahan pada pegawai yang lebih bawah lagi (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 21). Seperti dari contoh kasus yang dibawa oleh Mochtar Lubis tentang kasus pertamina. Kasus suap yang terjadi di pertamina dengan salah satu perusahaan timbal di Inggris, Innospec Ltd, Perusahan ini diketahui telah memberikan suap kepada sejumlah petinggi di Pertamina dan pemerintahan dalam rangka mengamankan penjualan zat aditif bahan bakar tetra ethyl lead (TEL) sebagai material tambahan untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) kasus suap ini telah menye babkan kerugian yang bernilai ratusan juta rupiah terhadap Indonesia. Namun para petinggi pertamina tidak ada yang mau mengakuinya, hingga para penyelidik KPK harus turun tangan. Hal ini telah merupakan suatu cukup bukti yang menunjukkan bahwa tidak atau enggan bertanggung jawab adalah salah satu sifat manusia Indonesia. Namun ketika terjadi suatu hal yang meyebabkan suatu kesuksesan, maka manusia Indonesia tidak sungkan untuk unjuk diri dan berusaha membuktikan bahwa kesuksesan itu terjadi karena usaha mereka (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 22).
Ciri ketiga sifat manusia Indonesia adalah jiwa feodal yang dimilikinya. Ketika gerakan revolusi terjadi dengan tujuan agar menghilangkan dan membebaskan manusia dari feodalisme yang ada di Indonesia, namun kenyataan berkata lain. Banyak sekali kejadian – kejadian yang mengindikasikan bahwa feodalisme dalam bentuk baru semakin berkembang di Indonesia, seperti contoh, Sejarawan Prof. Dr. Djoko Suryo, dalam sebuah kesempatan di salah satu acara televisi mengatakan, “Dulu seorang sultan memang memiliki kekuatan politik untuk mengatur kesultanannya, tetapi sekarang seorang sultan sekarang sekarang adalah pemimpin kultural bukan politis. Akan tetapi, kontras sekali peryataan ini apabila kita menyaksikan pula kesediaan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009.
Pertanda apakah ini? Ketika seorang pemimpin tradisional kharismatis di mata masyarakat Yogjakarta dan menjadi simbol eksistensi budaya Jawa yang telah merintis karier politiknya dan sekarang memutuskan untuk mengajukan diri menjadi orang nomor satu di Indonesia. Hal ini menimbulakan kecenderungan bahwa hal ini mempunyai suatu tujuan terselubung disamping ingin membuat Indonesia menjadi lebih baik namun, sang sultan juga mempunyai urgensi ingin mempertahankan Jogjakarta sebagai pusat budaya Jawa denga Keraton sebagai simbolnya patut dipertanyakan kembali. Sultan yang dipandang sebagain besar masyarakat sebagai tokoh Raja – Dewa sebenarnya hanya mempunyai fungsi sebagai pemimpin kebudayaan Jawa. Namun demikian, ambisinya ternyata tidak terbatas pada titik itu. Ia ingin membangkitkan kembali kesultanan yang dipimpinnya melalui jalur eksekutif. Sikap ini sebenarnya sangat prematur karena lebih berpotensi menghasilkan berbagai hal yang negatif. Hal ini yang menrupakan indikasi munculnya feodalisme di Indonesia, feodalisme merupakan bentuk penghisapan yang dibungkus oleh nila kultural dalam bentuk konsep patron-klien, raja berkewajiban melindungi rakyat, sedangkan rakyat berkewajiban melayani raja. Dalam aplikasi yang lebih moderen, feodalisme belum sepenuhnya hilang di negara ini. Tentunya masih segar dalam ingatan kita, tentang bagaimana Soeharto menerjemahkan kapitalisme barat dalam bentuk feodalisme modern Jawa yang sangat menyengsarakan rakyat.
Ciri keempat manusia indonesia yang disebutkan dalam sinisme Mochtar Lubis adalah percaya akan takhayul. Dari jaman dahulu sampai jamn globalisasi saat ini manusia Indonesia masih sangat percaya akan takhayul, ketika jaman penjajahan contohnya, presiden Soekarno yang notabene pada masa itu dianggap sebagai lambang dukun yang paling berpengaruh di Indonesia, sering menggunakan mantra – mantra untuk mengusir para penjajah seperti nekolim, vivere pericoloso, dan lain – lain (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 28). Yang hal ini sebenarnya hanya membuat manusia Indonesia menjadi lemah, mereka berfikir hanya dengan mengucapkan mantera mereka bisa mengusir penjajah. Hingga memasuki jaman globalisasi seperti saat ini masih sering kita jumpai perilaku – perilaku mistik yang dilakukan oleh manusia Indonesia tidak hanya di kalangan masyarakat biasa namun juga di kalangan penjabat. Seperti contoh, masih sering kita lihat “sesajen” ketika kita melewati jalan dimana pada jalan tersebut sering terjadi kecelakaan dengan harapan kecelakaan tersebut akan berkurang atau bahkan tidak terjadi kecelakaan lagi, selain itu ketika mengharapkan akan sesuatu manusia Indonesia sering peri ke makam wali songo atau sesepuh mereka untuk menerima suatu berkah agar keingingan mereka dikabulkan. Situasi seperti demikian yang merupakan cerminan ciri manusia Indonesia, sebenarnya tidak mencerminkan sosok manusia Indonesia yang sebenarnya dimana negara kita Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila, pada sila pertama menyebutkan Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam sila tersebut menggambarkan bahwa manusia Indonesia adalah manusia yang percaya akan adanya tuhan yang pada kondisi kenyataannya sama sekali berbeda, tentunya hal ini menjadi suatu ironi akan manusia Indonesia.
Ciri kelima manusia Indonesia adalah artistik. Hal ini, menurut saya sedikit terkait dengan ciri keempat manusia Indonesia dimana manusia Indonesia yang percaya akan takhayul menggunakan naluri mereka untuk memvisualisasikan sesuatu yang mereka sembah dengan menciptakan suatu karya seni yang sangat artistik. Ciri kelima ini, menurut Mochtar Lubis cukup membanggakan dikarenakan kerajinan – kerajinan yang mereka ciptakan sangat digemari oleh pihak – pihak asing dan oleh karena itu dapat menghasilkan keuntungan bagi Indonesia. Seperi yang telah kita ketahui, banyak sekali karya insan manusia Indonesia yang telah menjadi salah satu karya menakjubkan yang di akui oleh dunia, seperti gamelan dari Indonesia telah menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Selain itu, kesenian tari kecak dari Bali, juga telah tenar dalam kalangan internasional, hal ini terbukti ketika salah seorang budayawan asal Jepang, Dr. Mari Nabeshima dalam pidatonya pada kongres kebudayaan bali ke – 1 di Denpasar tahun 2008, beliau mengatakan “seni pertunjukan tradisi Bali selain menampilkan tontonan yang bermutu juga merupakan sebuah alat komunikasi antarbangsa, khususnya masyarakat Jepang-Bali di era globalisasi dewasa ini.” (Dr. Mari Nabeshima; 2008).
Ciri keenam manusia Indonesia dalam sinisme Mochtar Lubis adalah watak yang lemah. manusia Indonesia cenderung memiliki karakter yang lemah, tidak kuat untuk memegang teguh keyakinannya, sangat mudah untuk dibujuk bahkan dipaksa, hanya untuk survive dalam roda kehidupan. Kegoyahan watak ini juga berkaitan dengan sikap feodal yang dimiliki oleh manusia Indonesia (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; 35). Selain itu manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis adalah suatu sosok yang ingin mendapatkan kesuksesan tanpa ingin untuk bersusah payah, menginginkan segala sesuatu terjadi dengan instan. Menurut saya hal ini tidak berlebihan, dikarenakan kenyataan yang bisa kita lihat belakangan ini banyak sekali manusia Indonesia yang ingin mendapatkan kesuksesan dengan mengambil jalan pintas seperti contoh pencurian, korupsi, perampokan sering terjadi. Hal demikian merupakan suatu indikasi bahwa untuk mendapatkan kekayaan, manusia Indonesia cenderung menempuh jalan pintas dengan melakukan hal seperti demikian. Contoh lain yaitu generasi muda Indonesia juga mulai terjangkit virus malas berusaha tersebut, banyak sekali mahasiswa yang ingin mendapatkan gelar sarjana mereka dengan melalui jalan pintas seperti membeli skripsi, gelar, dan lain – lain.
Dari keenam ciri diatas, menurut saya hal ini memang terjadi akibat pudarnya gagasan awal tentang Indonesia. Yaitu suatu negara yang berdasarkan dan berideologi Pancasila, namun perilaku manusia Indonesia sendiri tidak mencerminkan demikian. Banyak sekali penyimpangan – penyimpangan dari Pancasila yang telah dilakukan oleh manusia Indonesia yang juga telah saya uraikan dalam penjelasan di atas. Seperti kemunafikan, takhayul, dan masih banyak lagi, hal ini merupakan suatu indikasi akan pudarnya gagasan awal akan Indonesia, dimana manusia Indonesia merupakan insan yang jujur, lembut, dan lain – lain.
Hal seperti ini perlu mendapat perhatian lebih dari kita para generasi muda Indonesia, jika bukan kita yang merubah keenam hal diatas, maka manusia Indonesia tetap akan menjadi dan memiliki sifat yang telah disebutkan dalam sinisme Mochtar Lubis akan manusia Indonesia. Ketika gagasan tentang Indonesia sudah benar – benar pudar, maka hal yang ditakutkan adalah Indonesia akan kembali menjadi negara yang terjajah meskipun bukan dalam artian wilayah teritorial, namun dalam segi mental, budaya, sikap dan masih banyak lagi. Oleh karena tu, maka hendaknya kita sebagai generasi muda manusia Indonesia agar memperkuat kembali gagasan tentang Indonesia, supaya Indonesia yang kita tempati sekarang ini menjadi Indonesia yang sebenarnya, yaitu Indonesia memiliki jati diri yang kuat di dukung dengan manusia Indonesia yang memiliki jiwa Indonesia yang sesungguhnya dengan berdasarkan pada Pancasila.
Sources:
- (Lubis, Mochtar; “manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia; 2001),
- Oki Baren, 26 maret 2010 (http://www.primaironline.com/berita/ekonomi/inilah-risalah-kasus-suap-pertamina),
- http://www.antara.co.id (Dr. Mari Nabeshima: Seni Budaya Bali Mendunia;Minggu, 15 Juni 2008 16:06 WIB), access at 11:58 pm, 4/5/2010
Tuesday, May 11, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



2 comments:
setubu bangeddd,,,
apalagi liat anak mudanya,, ancur poll,, hedonisme sudah mulai melekat pada diri remaja sekarang, kesenian tradisional juga dianggap jadul n ga penting bangeddd,,,
bisa""" 5-10 tahun lagi,, indonesia g jdi sebagai budaya ti,ur lagi, jadi gila semua kayak barat,
kemiskinan, kerusuhan bahkan kriminilitas dan pelecehan seksual akan menjadi"",, bahkan jadi lebih parahh...
LANTAS SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI ???
SEBELUM ITU SEMUA TERJADI .. AIOKKK KITA SEBGAI MAHASISWA JADI KADER PERUBAHAN DEMI MASA DEPAN INDONESIA TERCINTA.....
justru itu,,, hendaknya kritik dari mochtar lubis ini bisa kita jadikan sebagai suatu tamparan akan identitas kita yang sebenarnya,,,
MARI KITA JAGA IDENTITAS ASLI KITA,,,
DEMI INDONESIA
Post a Comment