Thursday, June 3, 2010
SSI : Struktur sosial seperti apa yang diwarisi dan tengah berkembang saat ini di Indonesia?
Pada mata kuliah Studi Strategis Indonesia I pada minggu ini, kita membahas mengenai struktur sosial yang bagaimana yang diwarisi maupun yang sedang berkembang di Indonesia pada saat ini.
Pertama – tama saya ingin menjelaskan terlebih dahulu, mengenai definisi dari struktur sosial itu sendiri. Struktur sosial adalah, secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal. Suatu sistem sosial tidak hanya berupa kumpulan individu tetapi juga berupa hubungan-hubungan sosial dan sosialisasi yang membentuk nilai-nilai dan adat istiadat sehingga terjalin kesatuan hidup bersama yang teratur dan berkesinambungan. Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Struktur sosial dapat diartikan sebagai jalinan antara struktur-struktur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah / norma-norma sosial, lembaga-lembaga sosial dan lapisan-lapisan sosial.
Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:
v George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
v George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
v William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.
v Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.
Struktur sosial mempunyai ciri – ciri sebagai berikut:
1. Muncul pada kelompok masyarakat: Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat. Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan: Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
3. Dapat berubah dan berkembang: Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman. (Alam S& Henry H, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMK dan MAK Kelas XI, Jakarta: Erlangga)
Seperti yang telah kita ketahui, Indonesia adalah negara terdiri dari berbagai macam kultur atau budaya. Karena sistem sosial dan budaya masyarakat Indonesia sangat heterogen secara vertikal maupun horizontal. Indonesia merupakan negara yang memiliki susunan masyarakat dengan ciri pluralitas yang tinggi. Pluralisme yang dimiliki oleh Indonesia ini adalah merupakan salah satu hal yang menyebabkan Indonesia mempunyai struktur sosial yang bermacam – macam., dikarenakan pada tiap – tiap budaya tentunya memiliki struktur sosial yang berbeda pula. Sebagai contoh, budaya bali dengan jawa, memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Masyarakat jawa, dalam struktur sosialnya tidak memiliki perbedaan kasta semua di anggap sederajat, sedangkan masyarakat bali dalam struktur sosialnya mereka memiliki kasta, yaitu tingkatan derajat sosial, dimana pria atau wanita pada kasta yang rendah tidak boleh menikah dengan pria atau wanita pada kasta diatasnya.
Pada masa sekarang, struktur sosial di Indonesia sedikit banyak telah mengalami perubahan,. Yaitu dengan semakin berkembangnya teknologi, cara berhubungan antar masyarakat pun mulai berubah dimana dulu, ketika masyarakat ingin berkomunikasi dengan koleganya, mereka harus mengirim surat melalui pos dan semacamnya. Namun sekarang, dengan semakin berkembangnya teknologi, untuk berhubungan dengan orang yang jauh kita bisa menggunakan pesawat telepon. Hal ini merupakan salah satu perkembangan yang terjadi pada struktur sosial di Indonesia. Namun hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga dengan negara – negara lain. Hal ini merupakan suatu contoh nyata bahwa struktur sosial tidakn merupakan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bisa berkembang beriringan dengan berkembangnya zaman.
Sedangkan jika ditilik dari sudut pandang historis, struktur sosial masyarakat Indonesia sangat mengalami perubahan yang signifikan, ketika pada zaman penjajahan Belanda dahulu, hanya orang – orang dari kalangan elite saja yan boleh mengambil pendidikan sekolah, sedangkan masyarakat dari kalangan bawah tidak diperbolehkan untuk mengambil jenjang pendidikan. Namun sekarang, sejak zaman kemerdekaan tahun 1945, tiap kalangan masyarakat atas maupun bawah dapat mengambil jenjang pendidikan setinggi – tingginya. Hal ini merupakan salah satu perkembangan dari struktur sosial masyarakat Indonesia.
Salah seorang dosen dari UGM yaitu Prof. Dr. J. Nasikun dalam bukunya menulis sejumlah penggolongan atas masyarakat Indonesia. Misalnya penggolongan berdasarkan perbedaan suku bangsa (Jawa – NonJawa), agama (Islam Santri, Islam NonSantri, Kristen, dan NonIslam Lain), pelapisan sosial (priyayi dan wong cilik), urban-rural (desa dan kota).1 Jadi, berbeda halnya dengan pemusatan bifurkasi (pembelahan) sosial ala Eropa yang lebih menekankan dimensi ekonomi, bifurkasi sosial di Indonesia selain ekonomi juga akibat perbedaan region, keyakinan, dan pelapisan sosial. Pada demokrasi liberal pertama (1950-1959) misalnya, dapat ditelusuri kemunculan PNI selaku partai politik dari garis struktur sosial ini. PNI identik dengan kalangan priyayi Jawa, kaum borjuis local, birokrat pemerintah, dan kaum budaya Jawa. Pengaruh dari PNI merasuk melalui tokoh-tokoh masyarakat yang dekat dengan kalangan pemerintahan. Sementara itu sebaliknya, PKI muncul akibat terkonsentrasinya “apatisme” kalangan wong cilik, petani kecil, buruh, dan kalangan Islam NonSantri. Masyumi memiliki basis politiknya dari kalangan Islam Modern, Muhammadiyah, kalangan pedangan kelas menengah perkotaan. NU, di sisi lain, tumbuh dari gerakan Islam Tradisional (pesantren), penduduk Jawa, dan menganut tradisi patron klien antara kyai-santri. Penghubungan antara struktur sosial dengan struktur politik di Indonesia misalnya dilakukan oleh beberapa peneliti. Leo Suryadinata et.al. misalnya mengkaji perilaku pemilih dalam pemilu (selaku variable terikat) dengan variable-variabel bebas seperti agama, etnis, pendidikan, komposisi geografis, populasi migrant dan urban, pendapatan per kapita, dan kemiskinan. 2. Selain Suryadinata, peneliti lain seperti R. William Liddle dan Saiful Mujani juga melakukan hal yang hampir mirip. 3. Keduanya mengkaji variable-variabel seperti orientasi agama, ekonomi politik, kelas sosial, identitas etnis, rural-urban, usia dan gender. (Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2006) h. 63)
Referensi :
- Alam S& Henry H, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMK dan MAK Kelas XI, Jakarta: Erlangga
- Leo Suryadinata, et.al., Indonesian Electoral Behavior: A Statistical Perspective, (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2004).
- Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2006) h. 63.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment